Kali ini, akhirnya saya membahas parfum lokal! Brand parfum ini belakangan santer sekali di media sosial. Awalnya saya cuek saja, sampai akhirnya kok jadi penasaran.

Orgasm adalah nama yang cukup menantang untuk sebuah parfum. Ekspresi yang melambangkan puncak, klimaks - rasa nikmat yang luar biasa. Konteksnya, biasanya, adalah seks. Jadi, kalau parfum ini dinamai begitu, berarti nggak sembarangan, dong.

Dengan cara penjualan yang terbatas, ditambah lagi harganya cukup terjangkau, setiap batch selalu sold out dengan cepat. Testimoni yang diberikan oleh para pembeli pun selalu bombastis. Gimana cara nggak penasaran tuh.

HMNS menjual parfumnya lewat instagram, web, serta marketplace: shopee dan tokopedia. Setelah dua kali PO selalu kehabisan, akhirnya saya beruntung di batch ketiga. 

So how was it?

HMNS (dibaca Humans), adalah brand parfum lokal yang baru berdiri tahun 2019. Karena pemiliknya cowok, pada awalnya HMNS hanya mengeluarkan parfum untuk pria. Orgasm adalah parfum feminin pertamanya.

Skena parfum di Indonesia, sepanjang perhatian saya, memang lebih condong ke kaum Adam. Pasalnya, mereka aktif berdiskusi baik di kaskus maupun grup facebook. Koleksi parfum sama menariknya dengan koleksi jam tangan atau gadget. Kalau baca-baca obrolan parfumnya cowok-cowok, beda banget feel-nya, hahaha.

Sementara, kaum perempuan lebih suka sistem rekomendasi: langsung review di instagram, blog, atau aplikasi femaledaily. Saya pun tahu HMNS ini dari iklan di instagram. Parfumnya, ya Orgasm ini.

Alien adalah adik dari Angel, yang pernah saya review sebelumnya. Sama seperti kakaknya, parfum ini cukup kontroversial di kemunculannya. Diluncurkan tiga belas tahun setelah Angel, komposisi parfum ini jauh lebih sederhana, tapi hasilnya tetap kompleks.

Orang bilang, you’re either an Angel girl or an Alien girl; karena penasaran, saya merasa ‘wajib’ juga mencoba Alien, untuk membuktikan itu. Lagipula, saat melihat notes-nya - jasmine alias melati - saya merasa kayaknya bisa suka, dan tebakan saya benar.

Alien is a different sister of Angel, but with the same inspiration. Mereka sama sekali nggak ada mirip-miripnya, tapi sebagaimana Mugler yang selalu unik dan menonjol, mereka sama-sama menarik perhatian dari semprotan pertama.

Review Parfum Alien - Mugler

Saya dapat parfum ini dalam bentuk decant dari toko langganan saya, ETC di Tokopedia. Buat yang baru mau mulai mengoleksi parfum, atau biasa beli di mal dan ingin coba beli online, rekomendasi utama saya adalah toko ini. Koleksinya lumayan lengkap, harganya nggak mahal, pengiriman cepat banget dan customer service-nya super oke :D

Alien terdiri dari tiga aroma utama: Jasmine Sambac sebagai top note, Woodsy notes di middle notes, dan Amber untuk base note. beberapa review yang saya baca juga mencantumkan solar notes, sesuatu yang awalnya bikin saya bingung. 

Solar = matahari? Apa berarti baunya kayak matahari, orang habis jemur-jemuran? Lah, bingung kan. Sewaktu menyemprotkannya ke badan, baru saya paham. 

Sama seperti Angel, Alien is a bomb. Bukan permen, tapi melati. Melatinya nggak kira-kira, terbayangnya kayak ada ember berisi melati, terus ditumpahkan ke badan. Se”kencang” itu aromanya, almost retro - seperti parfum-parfum zaman dulu yang bisa saya temukan di meja rias milik Eyang.

Aroma melati yang “berat” ini didukung oleh middle notes yang aromanya seperti kayu-kayuan, tapi agak samar. Yang saya rasakan malah solar notes-nya, seperti melati yang terjemur matahari. Aromanya menyebar kemana-mana. Suami saya sampai batuk hahahaha. Padahal cuma tiga kali spray.

Kalau mencium aroma itu saja, saya kayaknya nggak bakal kuat. Namun pelan-pelan Alien akan mengeluarkan aroma yang lebih lembut. Saat saya pakai, saya bisa mencium aroma vanila, tapi sedikit banget, melembutkan aroma jasmine-nya jadi lebih powdery. Drydown-nya lembut dan elegan. Di saya bikin rileks.

Botol full size-nya cantik, berbentuk seperti batu permata dengan warna ungu. Sebenernya kepincut juga pengen full size-nya, namun berhubung daya tahan parfum ini luar biasa, kayaknya butuh bertahun-tahun baru bisa habis. Jadinya saya merasa cukup hanya dengan decant aja, dan beli accordingly :p

Decant Alien by Mugler
botol decant yang saya dapat dari ETC store. Isinya 10ml dan enak untuk dibawa-bawa.

Saya pribadi sih merasa parfum ini works well dengan body chemistry saya, karena lama-lama dia menyatu dengan aroma tubuh, tapi tetap tercium baunya. Huhu pokoknya enak banget, in a different way than Angel.

Plus, parfum ini tahan lama. Di kulit saja bisa tahan seharian, apalagi di pakaian. Saya suka menyemprotkannya di baju sebelum tidur. Soalnya sampai besok masih tercium baunya, dan lebih enak daripada ketika pertama kali disemprotkan. Suami saya awalnya memang batuk, tapi drydown-nya, dia pun suka. 

Nama Alien memang cocok untuk parfum yang aromanya seakan turun dari langit, alias disiram. Jasmine yang kuat dan langsung mengisi penciuman membuatnya terasa “bersinar”. It fits the commercial, somehow.




Parfum ini kayaknya lebih cocok untuk acara spesial malam hari. Di bayangan saya, parfum ini sangat cocok dipakai dengan kebaya, hehehe. Kalau saya pakai buat tidur, itu karena tidur juga hal yang spesial (ngeles).

Untuk di kantor? Bisa sih, tapi satu spray sepertinya cukup. Saya tidak menyarankan, namun kalau mau, lebih cocok digunakan di ruangan ber-AC dan luas  supaya tidak mengganggu orang. Amannya sih, ditunggu sampai sekitar 30 menit agar harumnya sedikit “turun”. Kalau ruangannya kecil, lumayan bikin eneg.

Tapi kalau untuk diri sendiri, I like to wear this perfume and then bask in the bright sunlight. Aromanya menyebar ke sekeliling saya, like an aura, and indeed, you’ll feel a bit like an Alien.


Alien, by Mugler

House: Mugler
Notes: top note: jasmine sambac, middle note: woodsy and solar notes, base note: amber.
Sillage: High. Jangan overspray, satu-dua kali cukup. Segitu juga sudah menyebar ke ruangan.
Longevity: 6+ jam di kulit, 1-2 hari di pakaian.
Suitable for: Evening 



Karena selera saya cenderung tidak macam-macam - entah 'klasik', entah 'boring' - saya selalu bisa menemukan favorit saya di range harga sangat mahal, medium range, sampai affordable version. Parfum yang saya pakai kali ini termasuk di range harga yang terjangkau.

Review Volare Forever, by Oriflame (2016)


Oriflame adalah salah satu perusahaan MLM kosmetik yang masih bertahan di Indonesia. Saya tidak cocok memakai kosmetik atau produk perawatan kulit mereka, tetapi suka dengan parfum-parfum keluarannya. Harganya tidak terlalu mahal, dan kualitasnya bagus. Terlebih suka ada diskon untuk parfum-parfum tertentu.

Nah, Volare Forever ini saya dapatkan dalam rangka promo. Harga normalnya sekitar 500 ribu-an, tetapi saya beli dengan harga separuhnya karena sedang promo. Lucky me! 😄

Volare Forever adalah produk turunan atau flanker dari flagship fragrance mereka yang sudah lebih dulu terkenal, Volare. Memang sudah sejak lama saya mengincar Volare, karena reviewnya yang bagus di fragrantica. Tetapi, kebetulan yang diskon adalah seri Forever, ya sudah, tetap bawa pulang.


Botol parfumnya manis, berbentuk kelopak mawar dan mahkotanya. Salah satu desain parfum Oriflame yang menurut saya bagus banget dan pantas jadi pajangan di meja. Dengan bentuk botol yang seperti itu, nggak salah kalau mawar putih adalah bahan utamanya. 

Itu juga yang membuat saya ingin membelinya: Saya suka mawar - meskipun orang bilang kesannya kayak orang tua. See, pasaran kan? 😛 Baik mawar yang di-treat secara ringan (green notes), maupun yang berat dengan campuran vanilla, saya suka.

Di Volare Forever, mawar dipadukan dengan unsur buah - pink grapefruit dan raspberry - sehingga rasanya lebih ringan dan tidak berkesan tua. Malah, di hidung saya, aroma buah terasa lebih tajam. Biasanya saya nggak suka aroma buah, tetapi karena dipadukan dengan mawar, jadi tidak terlalu manis dan lebih feminin.

Pembukanya ringan dan segar, seperti kena cahaya matahari. Pink grapefruit, berpadu dengan raspberry yang manis, baru mawar dan melati. Tertulis kalau base-nya adalah almond, tapi di hidung saya tidak terlalu kentara. Malah ada sedikit aroma musk, tipis sekali. Secara umum, parfum ini sangat ringan - tapi tidak seringan parfum citrus yang cenderung sporty. Tetap mawar yang dominan.


Daya tahannya nggak terlalu lama. Meskipun eau de parfum, aromanya mulai hilang setelah 3 jam.  Mungkin parfum ini akan lebih tahan lama kalau di-layer dengan aroma yang lebih berat, seperti patchouli atau musk murni. (Both are my favorites, keduanya ada di Angel yang juga sempat saya review). Tanpa base yang 'berat', kesan Volare Forever menjadi feminin, cerah dan menyenangkan.


Awalnya saya nggak terlalu merasa parfum ini istimewa, tapi setelah habis sepertiga botol, baru merasa suka banget sama parfumnya. Soalnya, parfum ini termasuk fleksibel. Volare Forever mudah dipakai di berbagai situasi. Aromanya ringan, jadi tidak masalah untuk dipakai sehari-hari, terutama untuk bekerja. Selain itu, dijamin nggak akan mengganggu orang sekitar karena tidak menyengat. 

It's a pretty fragrance, definitely safe sebagai hadiah (kalau orangnya suka bunga), atau untuk starter, karena bisa dipakai mulai dari bekerja sampai kondangan - terutama siang hari.

Volare Forever

House: Oriflame Sweden, released 2016
Notes: Top note: Pink grapefruit, raspberry, jasmine; Middle note: white rose, taif rose; Base note: candied almond, musk
Suitable for: Daytime, Office Wear





Nama parfum ini mengingatkan saya pada Tinkerbell. Mungkin karena ini Lolita Lempicka. Iseng-iseng mencari artinya di google translate, yang didapat adalah She Loves Him to Madness. Terjemahan yang tercantum di sampulnya: Truly, Madly, Deeply. Lumayan intens untuk nama sebuah parfum.

Banyak orang yang takut pada bunga melati karena memiliki asosiasi tentang kematian, tetapi saya suka aroma melati. Melati yang tumbuh di Indonesia memberikan kesan segar, tapi juga 'berisi'; itu yang membuat saya membeli sampel Elle L'Aime A la Folie. Komposisinya terdiri dari melati dan amber, dengan nama yang manis, plus it's Lolita Lempicka dan saya sudah lama penasaran ingin mencoba karakter aromanya.


Saya tidak akan beli full bottle sebelum benar-benar yakin. Prinsip saya jadilah fragrance enthusiast yang hemat, hahaha. Memang, saya jadinya tidak mudah tergoda untuk beli yang mahal-mahal, tetapi malah jadi sering membeli sample kecil-kecil karena merasa mereka murah. Salah satunya adalah parfum ini. 

Elle L'Aime A la Folie adalah turunan (flanker) dari parfum Elle L'Aime, yang rilis setahun sebelumnya. Lolita Lempicka memang punya imej whimsical, seperti muncul dari negeri dongeng dan unik. 

Misalnya, rilisan utamanya, Lolita Lempicka dibungkus dalam botol berbentuk apel yang melompat dari dunia disney. Bukan tipe merek yang akan saya lirik pokoknya. 

Komposisinya memang cukup 'berat'. Parfum ini sama sekali nggak bisa dipakai di siang hari, apalagi kalau cuaca panas. Bisa mabuk. Tapi kalau dicoba di cuaca dingin, nyaman sekali - it's a bit nostalgic; mengingatkan saya pada parfum yang tercium dari pakaian nenek saya dulu, mungkin karena melati, ya? Tapi kesannya tidak tua, kok. 



Secara umum, pembukanya tajam dan tangy, (karena ada jeruk di dalamnya) yang kemudian bertransformasi jadi aroma manis dan herbal sebagai penutup. Intens dan lekat di kulit, sesuai dengan namanya.

Parfum ini kental, dan bukan tipe yang akan saya pakai sehari-hari. (Setelah mencoba ini, saya yakin saya nggak bakal cocok sama Kenanga.) Lebih spesifik lagi, sepertinya kalau dipakai terlalu banyak di sekitar orang yang tidak biasa dengan parfum, akan mengganggu. Meskipun ketika saya pakai, aromanya termasuk cepat hilang.

Tetapi kayaknya ini bisa saya pakai saat hendak tidur, untuk membantu agar lebih nyenyak. Nostalgia melati yang intens dan creamy mengingatkan saya pada parfum orang-orang dewasa yang menemani tidur saat kecil - satu aspek yang membuat saya senang mengeksplorasi, karena setiap aroma punya memori masing-masing. :)

Elle L'Aime A la Folie terdiri dari notes Bergamot, Mandarin, Jasmine, Ylang-ylang, Amber, Myrrh, dan Sandalwood.




Actually, my preferences are rather pretty basic. Saya suka hal-hal yang sederhana dan banyak disukai orang. Kalaupun hendak mencoba hal baru, saya selalu memastikan kalau hal tersebut memang memberikan impresi positif bagi banyak orang.

Parfum ini juga termasuk, tapi kesannya sedikit berbeda. Saya mengenalnya lewat tulisan terlebih dahulu, review di fragrantica - dan kesan yang saya dapat adalah: love it, or hate it. This fragrance was very polarizing and it ticked my curiosity. Pendapat yang tertulis benar-benar dua kubu: sangat suka atau sangat benci. Malah ada yang menulis kalau aromanya seperti bau keringat! Ha. Untuk sebuah parfum yang memiliki nama Angel, ini cukup membuat saya penasaran.

Terlepas dari itu semua, parfum ini adalah salah satu parfum terlaris di era 90-an. Cukup untuk membuat status Mugler (dulu Thierry Mugler) naik sebagai perfume house yang kini sangat diperhitungkan dan dihormati. Angel masih bertahan sebagai bestseller sampai sekarang, sebagai parfum yang mendobrak tren dan menciptakan famili baru dalam kategori parfum, yaitu gourmand, yang berarti parfum dengan aroma makanan.

Makanan? Yup. Sebelum ada Angel, kebanyakan parfum menggunakan aroma bunga dan buah sebagai penampil utamanya. Lainnya adalah wangi manis dari vanila, atau kayu-kayuan dan musk serta amber. Angel adalah parfum kompleks yang konon terinspirasi dari kenangan Mugler akan pasar malam yang dulu dikunjunginya sewaktu kecil. Hasilnya? Aroma coklat, karamel, madu, dan gula-gula yang dibuat secara kimiawi lewat ethyl maltol.

Di atas kertas, saya tidak suka dengan deretan notes yang dimiliki parfum ini. Saya tidak suka parfum aroma buah, apalagi yang terlalu manis karena saya nggak suka membayangkan parfum saya dikerubungi semut. (Nggak bakal dikerubungi betulan sih, tapi ngerti kan). But I decided to give it a try anyway, dan membeli sebuah travel spray untuk diri sendiri. Pikiran saya, kalau tidak cocok, ya tidak akan rugi-rugi amat.

Karena review bipolar itu, saya sempat pesimis saat menyemprotkannya pertama kali. And boy they were right.



Semprotan pertama langsung memberikan efek yang kuat. Stroberi, dengan sensasi dingin-berkarat, tangy, memenuhi penciuman sampai menusuk hidung. Hampir mirip bau sirup obat batuk yang bercampur dengan aftershave, sampai saya batuk beneran. Untuk orang yang tidak biasa memakai atau mencium aroma parfum, sudah pasti akan mual. Aroma tajam aftershave itu mungkin berasal dari patchouli, yang memberikan kesan maskulin. It's brash and almost tacky, saya jadi berpikir jangan-jangan parfum ini harus terbuang percuma.

Setelah menunggu agak lama (dan bertanya-tanya mengapa parfum se-'heboh' ini dinamai Angel), saya baru mencium aroma yang hangat dan menyenangkan. A bit familiar - seperti pernah saya cium pada seseorang sewaktu kecil, yang tentunya wajar-wajar saja mengingat saya tumbuh di masa 90-an. No wonder this was popular. Aromanya manis, dan saya bisa mencium vanila yang kental - dan juga praline. Manis tapi tidak berkesan gula-gula. Sebaliknya, justru ada sentuhan smoky dan earthy - almost like a blanket.

Deskriptor di atas nggak bisa menjelaskan dengan baik, sih. But that was a blast. Angel bagi saya sama sekali tidak lembut: dia manis, tapi kasar. It's brash in a big, bossy way, aromanya mendominasi tanpa tanggung-tanggung. Tetapi di baliknya ada kelembutan yang nyaman dan hangat, tersembunyi, almost heavenly, and that made me understand why this little gem is called an angel.

Yang dapat membuat orang benci pada parfum ini memang bisa dibilang semprotan pertamanya. Begitu mencium, bisa pusing. Karena itu sebaiknya parfum ini hanya dipakai di saat udara sedang sejuk atau dingin, dan tidak banyak-banyak. This one is very potent. Sebagai orang yang tinggal di kota dengan cuaca dingin, saya senang pakai parfum ini karena wanginya hangat, hahaha. Bila dipakai secukupnya, it truly is delicate - comforting, warm, and a bit sensual.

Botol aslinya cantik, berbentuk bintang dengan cairan berwarna kebiruan. Setelah beli travel spray ini, sepertinya saya akan nabung untuk beli yang full size-nya, hihi. Kayaknya satu botol bisa cukup untuk sekian tahun, sih... :)



Sejak kecil, saya suka sekali parfum.

Ibu saya bukan penggemar parfum. Beliau lebih suka pakai deodoran saja. Saya nggak punya memori masa kecil menemukan botol-botol parfum atau aroma parfum tertentu dari beliau.

Tapi, nenek saya dulu adalah sales advisor untuk Avon. Setiap bulan saya dapat katalog dari beliau. Biarpun nggak pakai (karena semua buat orang dewasa, ya), tapi saya rajin membaca produk-roduk yang ditawarkan terutama wewangian. Setiap nama parfum saya baca, saya teliti foto-fotonya, saya ingat komposisinya.

Memang, membeli parfum tidak hanya soal membeli aroma, tapi juga kesan dan cerita yang ada di baliknya. Part of buying fragrances are buying the fairytale itself; itu yang membedakan rasanya membeli parfum di supermarket atau parfum refill yang daya tahannya katanya bisa menyaingi parfum aslinya.

Kalau memang ada yang daya tahannya sama dengan aroma yang mirip, mengapa harus yang mahal?

Konon 80% harga parfum berasal dari biaya untuk advertising dan membentuk imej. Membeli parfum mirip seperti membeli novel favorit atau mencari pasangan yang tepat. Parfum adalah hal yang sangat pribadi, seperti koki memberikan citarasa masakan atau penulis yang memiliki ciri khas tersendiri.

A right scent can write their own novel, dan dengan sendirinya juga memperkuat latar belakang penggunanya: diri kita sendiri.

Satu lagi yang menyebabkan parfum bisa dihargai tinggi: menurut riset, manusia mengingat aroma dan bau lebih lama daripada penglihatan, suara, rasa yang ada di lidah, dan perasaan. Orang dapat mengingat aroma dengan akurasi 65% setelah satu tahun, sedangkan ingatan visual hanya bertahan 50/50 dalam waktu seperempatnya (tiga bulan).

Manusia mengidentifikasi tanpa sadar dengan bau, dan saya juga termasuk. Hidung ini nggak sensitif sih, tapi mungkin karena kebiasaan sejak kecil juga, saya 'membangun' sesuatu dengan aroma. Dengan sendirinya, saya juga jadi tertarik. Mulai dari saat saya baru bisa beli fragrance mist murah di supermarket, sampai sekarang suka nabung sedikit-sedikit untuk beli yang sedikit berat di kantong.

Nah, jadi seperti sudah diketahui, parfum itu termasuk kebutuhan tersier dengan harga yang tersier juga. tapi saya adalah orang yang mencintai kemewahan menyukai penghematan. Hobi apa pun kalau lupa diri bisa bikin dompet kebakaran.

Kalau punya minat dengan hal mahal dengan tetap berbudget pas-pasan, bagaimana dong?

Hobi apa pun, dengan sedikit pemikiran bisa diakali. He he.

 Jenis menentukan ketahanan, tapi tidak selalu.

Parfum di pasaran dibagi dalam beberapa kategori - mulai dari eau de parfum, eau de toilette, eau de cologne, dan nama-nama lain yang bisa membuat orang awam mengernyit atau tidak memahami bedanya.

Poinnya adalah, harga memang menentukan kualitas, tapi tidak selalu. Eau de cologne dengan harga lebih mahal daripada sebuah eau de parfum dari merk yang tidak terkenal belum tentu lebih tahan lama. Malah bisa sebaliknya.

  1.  Eau de Cologne / Eau Fraiche adalah yang paling ringan, dengan konsentrasi perfume oil sekitar 2%-5%. Di pasaran, eau de cologne juga dijual dengan nama body mist atau body splash. Daya tahannya paling sebentar, sekitar 2 jam dan setelah itu harus dipakai ulang.
  2. Eau de Toilette, memiliki konsentrasi perfume oil sekitar 4%-10%. Daya tahannya bisa mencapai 4-5 jam. Jenis ini cukup banyak dijual di pasaran.
  3.  Eau de Parfum, jenis yang paling banyak dijual, memiliki konsentrasi 8%-15%, atau sekitar 5-7 jam. Cocok dipakai setelah mandi untuk seharian, tidak untuk dipakai berulang-ulang.
  4. Perfume, atau Extrait, adalah yang memiliki konsentrat paling tinggi, sekitar 25%. Ketahanannya juga tentu paling lama, bisa sehari penuh. Ini adalah jenis dengan harga yang paling mahal - biasanya diberikan dalam botol biasa, bukan botol dengan atomizer, karena pemakaiannya memang hanya dimaksudkan hanya di titik-titik nadi tertentu.

Dari penjelasan di atas, Extrait memang bisa dibilang paling menguntungkan karena paling murni, tapi harganya juga bisa jadi paling selangit. Saya cenderung memilih eau de parfum, karena ketahanannya yang medium. Dengan mematok budget dan jenis yang sudah jelas, maka kelebihan budget juga bisa dihindari.

Pahami hidung dan tandai jenis parfum yang kamu sukai.

Memang iklan yang ditunjukkan parfum itu hebat: kita bisa begitu terpengaruh dengan bagaimana mereka memberikan imej untuk parfumnya.

Saya pernah terobsesi (iya) dengan parfum perempuan bercita-rasa sportif, seperti eskulin hijau yang dibintangi Andien waktu itu. Sewaktu remaja saya terkesan dengan botol-botol lucu Anna Sui, kemudian ingin jadi wanita klasik dengan menggunakan Lancome.

Eit, tapi yang paling penting dari segala iklan itu adalah wanginya kita suka. Kalau memang sudah ada wewangian yang disukai, boleh dicek apa saja komposisi notes-nya (bisa cek di fragrantica), dan setiap memilih parfum, jadikan notes itu sebagai patokan.

Misal, kalau kita suka parfum yang manis dan segar... cari hanya parfum floral-fruity. Kalau senang dengan yang hangat dan elegan, mungkin vanila atau musk bisa jadi pilihan. Kalau suka dengan aroma yang segar dan agak maskulin, pilih citrus.

Banyak juga versi 'dupe' dari parfum mahal; di mana merk terjangkau mengeluarkan dengan komposisi aroma yang mirip. Bukan parfum palsu, lho. Knowledge is power.




Gunakan dengan tepat dan hemat.

Setelah memilih jenis parfum yang cocok, gunakan dengan benar. Siapa yang selama ini menggunakan parfum dengan cara digosok atau disemprot ke baju begitu saja?

Jangan menggunakan parfum dengan cara digosok, karena ini akan merusak struktur wanginya. Gunakan hanya di titik-titik nadi tertentu agar tersebar merata. Nadi leher, dada, siku, belakang lutut adalah tempat yang cocok agar parfum tersebar merata.

Ada orang yang benci parfum karena ingat kenang-kenangan 'eneg' atau membuat mabuk udara. Bergantung dari jenis aromanya, ada notes parfum yang bisa lebih tahan lama karena komposisi. Parfum dengan aroma 'berat', seperti vanilla atau musk, cocok dipakai saat udara dingin, karena berevaporasi dengan udara lebih lama. Sebaliknya, bila dipakai di cuaca panas, yang ada bisa bikin eneg orang lain.

Jadi hati-hati dengan pemilihan aroma, ya. Untuk cuaca panas, lebih baik memilih yang ringan seperti aroma bunga dan buah. Kalau kita memilih jenis parfum yang sesuai dengan kebutuhan seperti di no. 1, maka penggunaan parfum pun boleh jadi tidak akan boros.

Don't blind buy atau beli versi KW! Coba lewat tester, vial, atau decant.

Di kota saya, banyak tempat isi ulanng parfum dengan harga yang tidak sampai 10% dari harga aslinya. Karena bibit langsung dari pabrik, katanya, jadi bisa lebih murah.

Begitu juga dengan toko online - banyak yang menyediakan parfum dengan label "99% grade ori", "original Eropa", "Original Reject", dan "Original Singapore". Ada yang dijual dengan boks atau tanpa boks. Percayalah, semua parfum itu adalah nama lain dari parfum tiruan. Aroma dan kualitasnya sudah pasti berbeda dengan yang asli.

Saya pernah sengaja membeli yang refill untuk dibandingkan dengan yang asli. Memang karena penasaran. Aromanya memang mirip, tapi beda, lho. Mungkin kalau memang tidak berminat/tidak terlalu memikirkan, parfum KW bisa lewat Quality Check. Parfum KW dengan yang asli kemiripannya sekitar 60%-70%.

Daripada membeli yang KW atau ori reject karena ingin memakai sesuatu yang bermerk tapi bukan, lebih baik mencari versi dupe alias parfum merk lain yang aromanya setipe/mirip, tetapi asli.

Barang yang asli dengan aroma mirip akan lebih otentik dibandingkan barang palsu yang dibuat menyerupai asli. Selain itu, kita juga nggak tahu kan, apakah si parfum KW tersebut mengandung zat berbahaya atau tidak?


All Around Conclusions

Saat ini, meskipun saya "suka" parfum, bukan berarti saya punya satu lemari yang penuh dengan koleksi. Malah karena saya suka, jadinya saya memilih-milih sekali apa yang akan saya pakai dan beli. Setiap kali saya beli, saya memastikan saya memang suka.

Tidak heran meskipun saya bilang saya "suka" parfum, tetap saja saya hanya membelinya beberapa bulan sekali. Malah seringnya saya beli ukuran mini, atau hanya sampel. Maklum, menyesuaikan dengan kondisi keuangan juga.

Fragrance and lipstick for me are like clothes. It's fun to explore dan mencoba macam-macam, selain menaikkan kebahagiaan diri sendiri dan juga kepercayaan diri. Terlebih ketika menemukan barang yang bagus dengan harga murah. (Wih, kayaknya semua orang suka harga murah). Yang penting jangan sampai mengganggu kondisi keuangan keseluruhan, dan tahu pasti kapan kita bisa belanja dan kapan harus berhemat.

Hmm, kayaknya saya bakal lebih sering berbagi soal parfum ini juga sih, soalnya saya lebih suka eksplor parfum dan kalau beauty review sudah banyak yang lebih oke.

the favorite

Kali ini, akhirnya saya membahas parfum lokal! Brand parfum ini belakangan santer sekali di media sosial. Awalnya saya cuek saja, sampai ak...